Minggu, 07 November 2010

istilah-istilah dalam adat pernikahan

  • Peningset atau serah-serahan adalah pemberian dari pihak mempelai pria. Berasal dari kata singset yang artinya ”mengikat”, peningset berarti hadiah yang menjadi pengikat hati antara dua keluarga. Secara adat Jawa, peningset biasanya terdiri atas: satu set daun sirih yang disebut Suruh Ayu, beberapa helai kain jarik dengan motif batik yang berbeda, kain bahan untuk kebaya, ikat pinggang tradisional yang disebut stagen, buah-buahan (terutama pisang), sembako (beras, ketan, gula, garam, minyak goreng, bumbu dapur), satu set cincin nikah, dan sejumlah uang sebagai sumbangsih dari pihak mempelai pria. Seserahan merupakan simbolik dari pihak pria sebagai bentuk tanggung jawab ke pihak keluarga, terutama orangtua calon pengantin perempuan. Untuk adat istiadat di Jawa  biasanya seserahan diberikan pada saat malam sebelum akad nikah pada acara midodareni untuk adat Jawa. Tetapi ada juga yang melakukan seserahan pada saat acara pernikahan. Sebisa mungkin cari solusi yang nggak memberatkan calon suami. Kalau terlalu merepotkan, ada baiknya jumlah dan jenis peningset dikurangi. Sesuaikan dengan kemampuan.
  •  Mahar adalah sesuatu pemberian suami atas permintaan istrinya, dan merupakan syarat sah pernikahan. Mahar tidak memiliki ketentuan harus dalam bentuk apa dan berapa jumlahnya, tetapi ada ajaran dari Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam menentukan mahar, karena dikhawatirkan akan memberatkan calon suami. Rasulullah SAW telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir RA: ”Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah”. Mahar akan disebutkan dan diberikan pada prosesi ijab qobul. Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini, ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama.Mahar adalah hak murni wanita, dan dalam perkawinan harus ada pemberian harta dari pihak laki-laki terhadap wanita sebagai mahar, adapun jenis dan kadar mahar berbeda-beda sesuai dengan kemampuan. 
  • Bentuk atau kadar mahar dalam proses pernikahan, dan keumuman di kalangan kita mahar itu lebih sering disebut dengan ‘maskawin’, dikarenakan keumuman mahar yang sering diberikan adalah sesuatu yang terbuat dari emas, seperti cincin, gelang atau kalung, sehingga disebutlah ‘maskawin yang artinya emas untuk kawin’, akan tetapi istilah maskawin untuk sekarang ini menjadi salah kaprah, disebabkan banyak orang yang memberikan maskawin berupa seperangkat alat untuk shalat atau berupa uang, sehingga arti dan maksud maskawin menjadi tidak relevan dan tidak nyambung lagi. Untuk itu, hendaknya kita yang sudah paham mengembalikan istilah ‘maskawin’ kepada nama yang sebenarnya yaitu ‘Mahar’.
Kesungguhan mempelai pria dalam memberikan  kemampuannya menyiratkan penghargaannya yang tinggi kepada calon mempelai wanita dan juga kedua orang tuanya. Orang tua mempelai wanita juga akan mendapatkan kesan mendalam, betapa calon mantunya berupaya memberikan penghargaan yang tinggi terhadap anaknya, dalam ketulusan dan wujud terbaik yang bisa diusahakan calon mantunya. Kesan pertama yang setidaknya dapat memberikan kepercayaan bahwa anak gadisnya nanti akan diperlakukan dengan baik.

mainset 1

  • kadang suka terpikir ga kalo kita suka menahan emosi yg seharusnya dikeluarkan. Cuma untuk mempertahankan atau menjaga perasaan orang lain (padahal kalian tau kalo orang itu tidak pantas untuk dipertahankan) yah, cuma untuk mendapatkan predikat Ms.akrab? it so pathetic u know. Menjaga perasaan orang lain memang perlu, tapi bukan berarti terus-terusan jd orang tolol yg mengalah dan mengesampingkan perasaan pribadi kan? Itu sama saja menyakiti diri sendiri, dan menurut agama menyakiti diri sendiri itu dosa lho.
  •  suka merasa risih ngeliat pakaian atau attitude orang lain yg agak lebay. Excuse me, hellooooo, is that ur problem? itu haknya dia mau bicara, berpakaian, berjalan seperti apapun. kalo memang bikin mata lo gatel, lebih baik langsung alihkan pandangan lo ke tempat lain. Dan kalo mulut lo itu agak gatel mau share pemandangan yg lo liat td ke teman lo, ya silahkan, tapi jgn sampai si subject mendengar hal tersebut. ingat ya, menyakiti hati orang lain itu dosa(kata mama).
  • ketika mereka bertanya atau menegur, setelah kita jawab kok mukanya jd asem ya? nah, coba flashback apa yg salah. Mungkin nada bicara kita agak jutek, atau jawaban kita kurang tepat. Memang agak sulit merubah sesuatu hal apa lagi hal tersebut sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. tapi, 'ga ada salahnya juga kok berubah sedikit. justru perubahan itu bisa jd menambah hal yg positif buat lo.